Hari ke-15, PT Vale Tegaskan Pemulihan Towuti Berbasis Data Ilmiah dan Gotong Royong

waktu baca 2 menit
Senin, 8 Sep 2025 16:21 0 1353 Tim Redaksi
 

TOWUTI – Memasuki hari ke-15 pasca insiden kebocoran pipa minyak di Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) menegaskan komitmennya untuk menjalankan pemulihan secara transparan, akuntabel, dan berkelanjutan.

Strategi yang ditempuh perusahaan menekankan dua pendekatan utama: pemanfaatan data ilmiah yang komprehensif dan partisipasi aktif masyarakat melalui gotong royong.

Hingga Minggu (7/9), Posko Pengaduan dan Informasi bersama layanan hotline 24 jam telah menerima 126 laporan resmi dari warga.

Data tersebut mencakup 42 lahan sawah, 28 kebun, 19 empang, serta 37 kasus terkait akses air bersih dan peternakan.

“Basis data yang komprehensif ini bukan sekadar mencatat kerugian, tetapi juga menjadi instrumen untuk merancang solusi jangka panjang yang terukur, adil, akuntabel, dan berbasis ilmiah,” jelas Endra Kusuma, Head of External Relation PT Vale Indonesia Tbk.

Selain asesmen berbasis data, semangat kebersamaan warga juga menjadi kunci pemulihan. Dalam lima hari terakhir, 60 warga dari Desa Lioka dan Desa Baruga bergabung dalam tim kerja bergiliran untuk membersihkan sisa minyak di aliran sungai.

“PT Vale tidak hanya datang membersihkan, tapi juga mengajak kami terlibat langsung. Kami merasa dihargai karena dilibatkan dalam memulihkan lahan dan air yang sehari-hari kami gunakan,” ungkap Ali Bastian, petani asal Dusun Molindowe.

Hal senada disampaikan Asrul Akhmad, warga Desa Matompi, yang menilai pendataan resmi memberi kepastian atas lahan terdampak.

“Dengan adanya pendataan, kami yakin masalah ini tidak diabaikan. Kami bersabar menunggu proses karena melihat keseriusan PT Vale dan pemerintah,” katanya.

Ke depan, PT Vale menegaskan bahwa pemulihan Towuti tidak hanya bersifat reaktif, tetapi menjadi momentum memperkuat solidaritas sosial, transparansi, serta keberlanjutan ekosistem.

“Komitmen kami adalah menjadikan pemulihan ini lebih dari sekadar penanganan krisis, melainkan sebagai fondasi untuk memperkuat Towuti, baik secara lingkungan maupun sosial,” tutup Endra. (*)