
MALILI – “Kalau kita menghormat, tidak ada. Harus keras.” Kalimat itu meluncur dari salah satu peserta rapat internal Gabungan Pengusaha Malili (GAPMAL) di Mixi Cafe and Resto Hotel Lagaligo, Sabtu (5/9/2026).
Rapat yang berlangsung sekitar tiga jam itu menjadi ruang bagi para pengusaha lokal menyampaikan keresahan mereka terkait akses pekerjaan di wilayah pemberdayaan PT. Vale Indonesia.
GAPMAL merupakan satu dari 13 asosiasi pengusaha lokal yang tergabung dalam Aliansi Asosiasi Pengusaha Lokal Lutim.
Dengan 43 anggota, GAPMAL menjadi salah satu wadah yang menyuarakan kepentingan kontraktor lokal di empat wilayah pemberdayaan PT. Vale, yakni Malili, Wasuponda, Towuti, dan Nuha.
Ketua GAPMAL, Mursyal Muhammadiyah, membuka rapat dengan menyampaikan hasil pertemuan lintas asosiasi sebelumnya. Salah satu hal yang menjadi harapan adalah penyederhanaan proses prakualifikasi bagi perusahaan yang sebelumnya telah dinyatakan lolos.
“Semoga saja keputusan kita dari lintas asosiasi kemarin itu terakomodir. Perusahaan-perusahaan yang sudah pernah lolos tinggal merubah data saja,” ujar Mursyal di hadapan anggota.
Menurut dia, perusahaan yang telah lolos prakualifikasi diharapkan tidak lagi menjalani seluruh tahapan administrasi seperti sebelumnya.
“Tidak perlu lagi melalui proses seperti kemarin. Mereka minta rekening koran dan segala macam. Jadi nanti tinggal update data,” lanjutnya.
Permintaan itu sebelumnya juga menjadi salah satu perhatian Aliansi Pengusaha Lokal. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan DPRD Lutim, di sekitar 27 April 2026.
Pengusaha lokal mempertanyakan kewajiban mengikuti proses prakualifikasi setiap lima tahun, sementara kontraktor nasional dinilai tidak menghadapi ketentuan serupa.
Meski demikian, penyederhanaan itu belum sepenuhnya final. Mursyal mengatakan masih terdapat pembahasan mengenai surat pernyataan yang harus ditandatangani perusahaan peserta prakualifikasi.
“Mereka masih bincangkan dengan tim legal internal PT Vale, apakah nanti redaksinya akan diubah. Bukan pakta integritas, tapi surat pernyataan,” katanya.
Persoalan surat pernyataan sebelumnya juga mengemuka dalam pertemuan antara aliansi pengusaha lokal dan PT. Vale di Sorowako pada Juli 2026. Evaluasi terhadap dokumen itu menjadi salah satu poin yang disepakati untuk dibahas lebih lanjut.
Hanya Satu yang Dapat Pekerjaan
Suasana rapat kemudian berubah lebih serius ketika anggota GAPMAL memaparkan kondisi yang mereka hadapi selama ini.
Dari 43 perusahaan yang tergabung dalam GAPMAL, disebut hanya satu perusahaan yang mendapatkan pekerjaan dalam satu periode prakualifikasi.
Direktur CV. Dika Bangun Perkasa, Bakratang, menilai persoalan utama bukan terletak pada jumlah perusahaan, melainkan bagaimana pekerjaan yang tersedia dapat diakses secara lebih merata.
“Saya pikir bukan perusahaan yang perlu kita tambah, tetapi pekerjaan yang harus kita upayakan, bukan perusahaannya,” ujarnya.
Olehnya itu, ia mendorong konsolidasi antar-perusahaan berdasarkan bidang pekerjaan yang diminati.
“Di prakualifikasi nanti kita lihat berapa perusahaan dan bidangnya. Di bidang tertentu, kita lihat potensi kita di situ. Kemudian kita konsolidasi,” jelasnya.
Bakratang juga menyinggung perbandingan jumlah paket pekerjaan dengan kontraktor yang bersaing.
“Paket pekerjaan di Vale itu kurang lebih 600, sementara kontraktor lokalnya sekitar 400,” ungkapnya.
Menurut dia, kondisi ini perlu menjadi bahan evaluasi agar keberadaan banyak perusahaan lokal tidak justru membuat persaingan semakin tidak terarah.
Jangan Jadi Penonton
Direktur PT. Cella Mining Mineral Indonesia, Jois AB, menilai GAPMAL harus memanfaatkan kekuatan kolektif anggotanya. Menurut dia, organisasi tersebut dibentuk untuk memperkuat posisi tawar pengusaha lokal ketika berhadapan dengan korporasi besar.
“Kita sudah punya posisi tawar dengan bergandengan di PT. Vale. Kalau kita tidak bisa memberdayakan 40 orang ini, ya memang satu saja setiap lima tahun,” tegasnya.
Jois meminta konsolidasi tidak hanya dilakukan di antara anggota, tetapi juga diarahkan untuk membangun komunikasi yang lebih kuat dengan PT. Vale.
“Jangan kita hanya membangun hubungan ke dalam. Lebih baik kita membangun hubungan ke Vale. Jadi memang kita tidak bisa setengah-setengah,” katanya.
Ia juga mendorong para pengusaha lokal untuk lebih berani menyampaikan kepentingannya. “Kita memang harus tampil berani. Harus nekat,” ujarnya.
Bagi Bidang, Hindari Saling Saing
Menanggapi berbagai masukan, Mursyal mengusulkan agar anggota GAPMAL melakukan pemetaan bidang usaha sebelum mengikuti prakualifikasi.
Dengan cara itu, perusahaan tidak mengambil bidang pekerjaan yang sama dan dapat saling mendukung ketika peluang tender terbuka.
“Misalnya kalau ada teman ambil bidang listrik, yang lain boleh ambil bidang lain. Supaya kita semua dapat tender,” usulnya.
Mursyal menjelaskan, sistem pengadaan PT. Vale memungkinkan perusahaan mendapatkan undangan berdasarkan bidang yang dipilih saat prakualifikasi.
“Vale itu sistemnya, bidang yang kita pilih itu saja yang kita dikirimi surat atau undangan,” jelasnya. Salah satu peluang yang dinilai cukup potensial adalah pekerjaan maintenance dengan berbagai jenis pekerjaan di dalamnya.
“Kalau servis banyak item pekerjaannya. Kalau kita bisa dorong dapat pekerjaan seperti itu, kan menarik. Bisa diberdayakan,” katanya.
Akan tetapi, strategi itu membutuhkan informasi yang memadai mengenai kebutuhan pekerjaan yang akan dibuka. “Tapi kan butuh informasi dari dalam juga. Informasi pekerjaan apa yang akan ada,” ujarnya.
Rapat internal GAPMAL belum menghasilkan keputusan final, tetapi pertemuan setidaknya memperlihatkan dorongan kuat untuk memperkuat konsolidasi antar-perusahaan lokal, sekaligus memperjuangkan akses pekerjaan yang dinilai lebih adil.
Menjelang akhir diskusi, Jois kembali menekankan pentingnya menjadikan sesama pengusaha lokal sebagai mitra, bukan pesaing.
“Fokus kita, sepakat kita bawa. Kita semua support di situ. Kalau kau mau menawar di situ, jangan jadi saingan, jadi supporting,” pesannya.

