Oleh: Asri Tadda (Wakil Ketua Kerukunan Keluarga Luwu Timur)
BAGI sebuah daerah, slogan atau tagline (seharusnya) bukan sekadar hiasan baliho saat kampanye. Ia seyogyanya berfungsi sebagai kompas, penanda arah ke mana energi masyarakat hendak digerakkan, dan apa saja yang akan dicapai.
Di Kabupaten Luwu Timur, dua bupati terakhir memberi warna berbeda lewat tagline mereka. Budiman mengusung “Luwu Timur Inspiring”, sementara Irwan Bachri Syam (IBAS) memilih “Lutim Juara”.
Sekilas, keduanya sama-sama optimistis. Tetapi jika ditelisik lebih jauh, kita bisa melihat perbedaan filosofi kepemimpinan yang lahir darinya. Yang satu berbicara tentang imajinasi inspiratif, yang lain tentang pencapaian konkret.

Kata “inspiring” dipilih Budiman tentu bukan tanpa alasan. Ia ingin menjadikan Luwu Timur bukan hanya berkembang untuk dirinya sendiri, melainkan juga menjadi teladan atau inspirasi bagi daerah lain.
Branding ini lahir pada 2021 dan kemudian mengiringi setiap program pemerintahan hingga akhir masa jabatannya. Harus diakui, selama memimpin Lutim, ada jejak capaian nyata yang menguatkan perwujudan tagline tersebut, diantaranya:
Memang, masih banyak pekerjaan rumah yang belum tuntas, salah satunya soal stunting yang masih di level 22,6% pada 2023—jauh dari target nasional 14%.
Namun secara umum, “inspiring” terbukti bisa memberi energi positif bagi Luwu Timur, dimana fiskal mengembang baik, desa mulai diberdayakan, ekonomi tumbuh, dan identitas daerah terangkat.
Berbeda dengan Budiman yang menekankan inspirasi, IBAS lebih memilih istilah “Juara” yang lugas dan membakar semangat. Ia ingin masyarakat merasa menjadi bagian dari pemenang, dengan capaian pembangunan yang bisa diukur dan dibanggakan.
Tagline ini kemudian dijadikan pijakan dalam RPJMD 2025–2029, dengan visi “Luwu Timur Maju dan Sejahtera.” Artinya, IBAS hendak memastikan slogan tersebut bukan sekadar jargon, tetapi terwujud nyata dalam layanan publik selama ia memimpin Bumi Batara Guru.

Hanya saja, memimpin Luwu Timur dalam satu periode ke depan, IBAS dihadapkan pada beberapa tantangan mendasar. Diantaranya adalah:
Di luar dari hal di atas, seperti juga dialami pemerintah daerah lainnya di seluruh Indonesia, IBAS mesti bisa menyesuaikan dengan kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat. Ini tentu bukan hal yang sederhana.
Jika era Budiman membangun imajinasi lewat inspirasi, maka era IBAS ditantang menghadirkan verifikasi lewat pencapaian nyata.
Slogan yang telah dibangun perlu dibuktikan dengan grafik yang menurun di angka stunting, menanjak di IPM, dan membaik dalam kualitas layanan publik dan realisasi program-program strategis.
Sejarah pada akhirnya tidak akan menanyakan slogan mana yang paling nyaring. Yang akan diingat adalah kebijakan yang paling terasa di kehidupan masyarakat sehari-hari.
Luwu Timur akan benar-benar disebut “juara” jika mampu menang tanpa meninggalkan siapa pun di belakang gelanggang.
Selamat bekerja, Pak Bupati IBAS! (*)