Dari “Inspiring” ke “Juara”, Menakar Arah Baru Kabupaten Luwu Timur

waktu baca 4 menit
Kamis, 21 Agu 2025 20:02 0 1407 Tim Redaksi

Oleh: Asri Tadda (Wakil Ketua Kerukunan Keluarga Luwu Timur)

 

BAGI sebuah daerah, slogan atau tagline (seharusnya) bukan sekadar hiasan baliho saat kampanye. Ia seyogyanya berfungsi sebagai kompas, penanda arah ke mana energi masyarakat hendak digerakkan, dan apa saja yang akan dicapai.

Di Kabupaten Luwu Timur, dua bupati terakhir memberi warna berbeda lewat tagline mereka. Budiman mengusung “Luwu Timur Inspiring”, sementara Irwan Bachri Syam (IBAS) memilih “Lutim Juara”.

Sekilas, keduanya sama-sama optimistis. Tetapi jika ditelisik lebih jauh, kita bisa melihat perbedaan filosofi kepemimpinan yang lahir darinya. Yang satu berbicara tentang imajinasi inspiratif, yang lain tentang pencapaian konkret.

Luwu Timur

Luwu Timur Inspiring ala Budiman

Kata “inspiring” dipilih Budiman tentu bukan tanpa alasan. Ia ingin menjadikan Luwu Timur bukan hanya berkembang untuk dirinya sendiri, melainkan juga menjadi teladan atau inspirasi bagi daerah lain.

Branding ini lahir pada 2021 dan kemudian mengiringi setiap program pemerintahan hingga akhir masa jabatannya. Harus diakui, selama memimpin Lutim, ada jejak capaian nyata yang menguatkan perwujudan tagline tersebut, diantaranya:

  1. APBD tumbuh dari Rp1,9 triliun (2024) menjadi lebih dari 2 triliun di APBD 2025, sinyal penguatan fiskal untuk pembangunan.
  2. Realisasi pendapatan daerah 2023 mencapai 101,09% dari target, pertanda tata kelola fiskal yang relatif solid.
  3. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terus naik hingga poin 76,44 di 2024, menempatkan Lutim di papan atas kabupaten di Sulsel.
  4. Penghargaan Adipura kembali diraih dua tahun berturut-turut (2022–2023), menjadi simbol keberhasilan pengelolaan lingkungan.
  5. Program desa lewat BKK “1 miliar 1 desa” terealisasi Rp119 miliar lebih pada 2022, memperkuat layanan dasar di akar rumput.
  6. Pertumbuhan ekonomi melesat dari -1,39% (2021) ke 9,66% (2023).
  7. Kemiskinan menurun ke angka 6,55% (Maret 2024), turun signifikan dibanding tahun sebelumnya.

Memang, masih banyak pekerjaan rumah yang belum tuntas, salah satunya soal stunting yang masih di level 22,6% pada 2023—jauh dari target nasional 14%.

Namun secara umum, “inspiring” terbukti bisa memberi energi positif bagi Luwu Timur, dimana fiskal mengembang baik, desa mulai diberdayakan, ekonomi tumbuh, dan identitas daerah terangkat.

IBAS dan “Lutim Juara”

Berbeda dengan Budiman yang menekankan inspirasi, IBAS lebih memilih istilah “Juara” yang lugas dan membakar semangat. Ia ingin masyarakat merasa menjadi bagian dari pemenang, dengan capaian pembangunan yang bisa diukur dan dibanggakan.

Tagline ini kemudian dijadikan pijakan dalam RPJMD 2025–2029, dengan visi “Luwu Timur Maju dan Sejahtera.” Artinya, IBAS hendak memastikan slogan tersebut bukan sekadar jargon, tetapi terwujud nyata dalam layanan publik selama ia memimpin Bumi Batara Guru.

IBAS PUSPA

Hanya saja, memimpin Luwu Timur dalam satu periode ke depan, IBAS dihadapkan pada beberapa tantangan mendasar. Diantaranya adalah:

  1. Menjaga kualitas belanja daerah. Dengan APBD 2025 sebesar Rp2,1 triliun, fokus harus digeser ke belanja publik yang benar-benar berdampak, mulai dari air bersih, sanitasi sekolah, hingga layanan kesehatan dasar.
  2. Mengakselerasi penurunan stunting. Target 14% masih jauh dari angka 22,6% (2023). Program lintas sektor harus lebih terukur, berbasis data, dan melibatkan desa secara serius.
  3. Mengelola paradoks pertumbuhan. Ekonomi tumbuh tinggi, tetapi harus dipastikan memberikan nilai tambah bagi tenaga kerja lokal, UMKM, dan sektor non-tambang yang dihuni lebih dari separuh warga Lutim.
  4. Memperkuat layanan dasar. Slogan “Juara”, oleh publik tentu akan diukur dari cakupan layanan beasiswa yang semakin baik, realisasi program prioritas saat kampanye, layanan kesehatan yang semakin terjangkau dan hal-hal lainnya.
  5. Mengatasi ketimpangan geografis. Layanan pembangunan harus menjangkau hingga kampung-kampung di tepian danau dan desa-desa pertanian, bukan hanya di pusat kabupaten saja.

Di luar dari hal di atas, seperti juga dialami pemerintah daerah lainnya di seluruh Indonesia, IBAS mesti bisa menyesuaikan dengan kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat. Ini tentu bukan hal yang sederhana.

Menjahit Dua Era, Membangun Satu Cerita

Jika era Budiman membangun imajinasi lewat inspirasi, maka era IBAS ditantang menghadirkan verifikasi lewat pencapaian nyata.

Slogan yang telah dibangun perlu dibuktikan dengan grafik yang menurun di angka stunting, menanjak di IPM, dan membaik dalam kualitas layanan publik dan realisasi program-program strategis.

Sejarah pada akhirnya tidak akan menanyakan slogan mana yang paling nyaring. Yang akan diingat adalah kebijakan yang paling terasa di kehidupan masyarakat sehari-hari.

Luwu Timur akan benar-benar disebut “juara” jika mampu menang tanpa meninggalkan siapa pun di belakang gelanggang.

Selamat bekerja, Pak Bupati IBAS! (*)