Si-Rukun di Watu Maeta, Majelis Taklim Mangkutana dan Deteksi Dini Konflik

waktu baca 4 menit
Minggu, 11 Okt 2026 09:59 0 1298 Arsal Amiruddin
 

MANGKUTANA – Baliho putih bertuliskan “Early Warning System Pencegahan Dini Konflik Sosial Berdimensi Keagamaan” terpampang di sekitar Permandian Alam Watu Maeta, Dusun Malela, Desa Margolembo, Mangkutana.

Ia menempel di antara rindang pepohonan, tepat di lokasi “Kemah Ukhuwah Majelis Taklim” yang digelar Sabtu (10/10/2026). Drs. H. Suwardi, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Mangkutana, hari itu membawa sekitar 160 ibu-ibu anggota Majelis Taklim dari desa-desa.

Peserta dibagi dalam 16 kelompok. Menurut Suwardi, satu kelompok terdiri dari tujuh sampai sepuluh orang. “Ada desa yang mengambil dua kelompok. Peserta total seratus enam puluh,” ujarnya saat ditemui di lokasi kegiatan.

Kegiatan berlangsung hingga malam. Sebelumnya, Suwardi memberitahu bila sesi refleksi itu dikemas sebagai malam perenungan. Sore harinya, panitia menggelar lomba nasi goreng setelah salat.

Malamnya diisi lomba tebak-tebakan dengan materi ringan sebelum momen refleksinya berlangsung. “Sudah kita kasih kisi-kisi semua,” lanjut Suwardi.

Majelis Taklim sebagai Mitra Pencegahan Konflik

Kepala Kantor Kementerian Agama Lutim, Rusdi Daming, menilai Majelis Taklim sebagai salah satu lembaga agama Islam yang paling kuat. Ia mengingatkan bahwa lembaga ini sudah ada sejak masa Nabi.

BACA JUGA:  Lupa Tarik Rem Tangan, Mobil Tabrak Rumah Warga di Malili

“Alhamdulillah, saya bersyukur teman-teman harus mendukung kegiatan kemah ukhuwah ini. Karena saya ingat bahwa Majelis Taklim ini adalah salah satu lembaga dalam agama Islam yang terkuat,” jelas Rusdi di lokasi yang sama.

Rusdi menyoroti kondisi pengelolaan Majelis Taklim yang selama ini terbatas pada pengajian duduk dan ceramah. Menurutnya, ibu-ibu Majelis Taklim kerap berada dalam tekanan yang membuat ruang gerak mereka terbatas.

“Tapi, ibu-ibu juga ini penuh represi. Makanya, dengan model seperti ini, saya kira ini adalah lompatan yang sangat luar biasa dilakukan oleh ibu-ibu Majelis Taklim,” imbuhnya.

Rusdi membeberkan alur koordinasi kegiatan ini. Ia menyebut gagasan berawal dari penyuluh Kantor Kementerian Agama Kecamatan Mangkutana.

“Lalu kemudian dikomunikasikan dengan ibu-ibu Majelis Taklim di BKMT kecamatan,” lanjutnya.

Setelah itu, kata Rusdi, gagasan dibawa ke pihak camat dan beberapa kepala desa. “Setelah mereka memfinalkan, beliau sempat ke Mangkutana untuk komunikasi secara langsung dengan BKMT kecamatan,” paparnya.

Suwardi menambahkan bahwa pemerintah kecamatan dan seluruh kepala desa diundang. Ia juga menyurati pihak terkait untuk menjaga pasokan listrik.

BACA JUGA:  Diduga Langgar Aturan, Pemecatan Relawan MBG Puncak Indah Dibawa ke BGN

“Semua kepala desa saya undang. LN juga saya surati supaya lampu tidak mati. Nanti malam pecah kegiatannya,” tuturnya.

Watu Maeta Jadi Ruang Kebersamaan

Kepala Desa Margolembo, Abdul Najib, menyatakan bahwa pelaksanaan kegiatan sepenuhnya dilakukan oleh ibu-ibu BKMT. Pemerintah desa, katanya, memandang kegiatan ini sebagai hal luar biasa.

“Positifnya untuk kami sebagai Desa Margolembo, karena dijadikan tuan rumah. Ini adalah acara yang saya kira hampir tidak pernah ditemukan. Ini yang pertama kali,” kata Abdul Najib.

Ia menjelaskan alasan pemilihan Watu Maeta. Menurutnya, lokasi ini dipilih untuk mempertemukan BKMT se-Kecamatan Mangkutana dalam konsep berkemah dengan nuansa alam.

“Dan bagaimana mempertemukan BKMT se-Kecamatan Mangkutana dalam konsep berkemah dengan nuansa alam. Makanya, tempat ini dipilih,” ungkapnya.

Abdul Najib menyebut pemerintah desa menyiapkan tempat menggunakan aset desa yang dikelola BUMDes. Fasilitas yang disediakan mulai dari kantor, dapur, hingga rumah pesantren.

“Kita berikan kantor kepada BUMDes. Dan pesantren seolah-olah menyewa di dalam rumah sini. Mulai dari kita beri dapur, semuanya, semuanya bebas,” bebernya.

BACA JUGA:  "Dakwah Tanpa Ceramah", Ketika Majelis Taklim Turun ke Alam

Menyampaikan Pesan Lewat Permainan

Suwardi menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang dengan pendekatan berbeda. Tidak ada ceramah, melainkan permainan yang dielaborasi untuk menyampaikan pesan.

“Jadi, kita pakai permainan-permainan. Tidak ada ceramah. Jadi, permainan nanti dielaborasi,” paparnya.

Rusdi menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar hura-hura. Nilai agama, ukhuwah, dan keberkatan antar-Majelis Taklim tetap menjadi fondasi.

“Karena kegiatan ini juga bukan kegiatan sekadar hura-hura. Tetapi, ada juga nilai agama, nilai ukhuwah, nilai keberkatan antara satu Majelis Taklim dengan Majelis Taklim,” tandasnya.

Suwardi berharap kegiatan ini berdampak pada kesadaran lingkungan di rumah masing-masing peserta. Menurutnya, minimal sampah ditempatkan pada tempatnya.

“Minimal di rumahnya, sampah ditempatkan pada tempatnya. Itu bagian dari menjaga lingkungan, memelihara lingkungan sekitarnya,” ucapnya.

Malam semakin larut di Watu Maeta. Baliho Early Warning System itu masih terpasang di antara pepohonan, menemani sesi refleksi yang disebut Suwardi sebagai malam perenungan.

Rusdi Daming berharap kemah ukhuwah tidak berhenti sebagai kegiatan sekali jalan. “Saya kira lanjutkan bikin kegiatan itu,” pungkasnya.