DLH Tinjau Sediment Pond PT.PUL, Sejumlah Catatan Teknis Kembali Diingatkan

waktu baca 4 menit
Jumat, 28 Agu 2026 09:00 0 1277 Arsal Amiruddin
 

LUTIM – Kekhawatiran warga mengenai sediment pond PT.Prima Utama Lestari (PUL) di Blok 1 Dusun Salociu, Desa Ussu, ditindaklanjuti dengan peninjauan lapangan bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lutim, Rabu (26/8/2026).

Peninjauan bersama Pemerintah Desa (Pemdes) Ussu, pihak perusahaan dan masyarakat itu, berlangsung beberapa hari setelah PT.PUL menggelar sosialisasi rencana penambangan Blok 1, pada Jumat (21/8/2026).

Saat itu, jarak sediment pond dengan permukiman menjadi salah satu perhatian warga. MaliliPos mencatat, warga menyebut salah satu kolam berada sekitar 150 meter dari permukiman, sehingga dibutuhkan penilaian teknis dari dinas terkait.

Pemeriksaan lapangan lalu dilakukan guna melihat langsung kondisinya. Dimana keberadaan fasilitas itu, menjadi bagian dari sistem pengelolaan air dan sedimen.

Kepala Teknik Tambang (KTT) PT.PUL, Doni, mengatakan sejumlah rekomendasi DLH telah ditindaklanjuti perusahaan. Meski, beberapa pekerjaan teknis masih dalam tahap penyempurnaan.

“Hari ini kita semua berkumpul di satu titik, yaitu di sediment pond Blok 1 Salu Ciu,” kata Doni, dikutip SinyalTajam.

Menurutnya, peninjauan itu diharapkan dapat menjawab kekhawatiran warga mengenai kemungkinan dampak pengelolaan air dari area tambang.

Ia mengatakan bagian yang belum selesai akan menjadi perhatian perusahaan sebelum aktivitas penambangan dimulai.

Kepala Desa Ussu, Rahmat, menyambut baik peninjauan pihak DLH. Menurutnya, pemeriksaan langsung diperlukan agar kelayakan fasilitas lingkungan dapat dipastikan sebelum kegiatan tambang berjalan.

“Kami berterima kasih karena keinginan warga difasilitasi,” ujarnya. Rahmat juga meminta pengawasan tetap berjalan setelah fasilitas dinyatakan siap.

Pemeliharaan sediment pond, kata dia, perlu dilakukan secara berkala selama aktivitas pertambangan berlangsung.

Sebelumnya, dalam sosialisasi, PT.PUL menjelaskan sistem pengelolaan air akan menggunakan saluran, control box dan sediment pond. Perusahaan menyebut, bila kapasitas daya tampung fasilitasnya, masih memiliki kelebihan sekitar 50 persen.

Hauling Masih Menunggu Kepastian Izin

Selain lingkungan, persoalan lain yang kini muncul berkaitan dengan aktivitas hauling PT.PUL di jalur umum Trans Malili-Palopo.

Telusur News melaporkan, kendaraan hauling perusahaan telah menggunakan jalur tersebut dalam periode 2022-2026. Akan tetapi, Doni menyebut perusahaan saat ini baru memiliki rekomendasi, sedangkan izin operasional definitif masih menunggu keputusan Balai Besar Jalan.

“Kami sudah menyelaraskan rencana dengan Pemda, namun keputusan tetap di tangan Balai Besar Jalan,” kata Doni.

Perusahaan juga disebut menggunakan rekomendasi teknis Dinas Perhubungan Sulawesi Selatan (Sulsel) yang terbit pada 2018 sebagai salah satu acuan.

Saat ditanya mengenai pejabat yang menandatangani dokumen, Doni mengaku tidak mengetahui secara pasti identitasnya. “Yang jelas itu orang yang menjabat saat itu, tapi siapa persisnya tidak teridentifikasi,” ujarnya.

Persoalan hauling juga bersinggungan dengan keselamatan pengguna jalan. Material yang tercecer dapat membuat badan jalan licin ketika basah dan menimbulkan debu ketika mengering.

Doni mengatakan PT.PUL tetap berkewajiban memenuhi ketentuan Analisis Dampak Lalu-Lintas (Andalalin), termasuk pemasangan lampu peringatan dan penempatan flagman pada titik yang dianggap rawan.

Upaya mengenai rencana pembangunan flyover di jalurnya, pihak perusahaan juga belum berani membenarkan. “PT. PUL tidak akan membangun flyover. Tidak ada rencana sedikit pun,” kata Doni.

Terkait mengenai akses media dan LSM, Doni mengatakan pertemuan dengan manajemen harus dilakukan melalui mekanisme perusahaan dan tidak secara spontan.

“Harus buat janji terlebih dahulu, koordinasi dulu melalui mekanisme MKI Eksternal. Media/LSM jangan mampir tiba-tiba begini,” ujarnya.

351 Tenaga Kerja Lokal

Di sisi lain, PT.PUL juga menonjolkan keterlibatan tenaga kerja lokal dalam operasional perusahaan dan mitranya.

SinyalTajam melaporkan, berdasarkan data per Agustus 2026, terdapat 441 tenaga kerja yang terlibat dalam operasional PT.PUL bersama dua mitranya, PT. Natural Persada Mandiri (NPM) dan PT. Alur Malaulu Investama (AMI).

Dari jumlah tersebut, 351 orang atau 79,6 persen merupakan tenaga kerja lokal. Sebanyak 267 orang bekerja di NPM, 56 orang di AMI dan 28 orang di PT.PUL.

Keterlibatan perempuan juga cukup besar. Dari 351 pekerja lokal, 87 orang merupakan perempuan. Di PT.AMI, pekerja lokal perempuan mencapai 53 dari 56 orang.

Wilda, pekerja lokal PT.PUL, mengatakan kesempatan kerja tersebut membuka ruang bagi masyarakat untuk berkembang.

“Potensi warga lokal benar-benar dihargai dan diberi ruang untuk berkembang menjadi staf atau ke level yang lebih tinggi,” ujarnya.

Sementara, Andi Fiqi M. Firdaus, pekerja lokal PT.PUL, menilai kesempatan kerja perlu dibarengi pelatihan dan pembinaan agar kompetensi tenaga lokal dapat mengikuti kebutuhan industri.

Mining Operation Division Head PT.PUL, I Putu Yudiantara, menyebut keterlibatan warga sekitar, sebagai bagian penting dari keberlangsungan operasional dan pertumbuhan ekonomi di lingkar tambang.