Cekcok Warga Atue dan Pekerja PT.PUL Berulang, Ini Penjelasan Soal Aktivitas Alat Berat

waktu baca 3 menit
Kamis, 1 Okt 2026 07:00 0 1293 Arsal Amiruddin
 

MALILI – Ketegangan antara sebagian warga Desa Atue, Malili, dengan pekerja PT.Prima Utama Lestari (PUL) kembali terjadi dalam dua hari berturut-turut.

Pada Senin (28/9/2026), cekcok terjadi antara Ketua Forum Masyarakat Atue (FORMAT) Bersatu, Yuyuk, dengan pekerja PT.PUL.

Sehari kemudian, Selasa (29/9), sejumlah warga kembali mendatangi aktivitas perusahaan. Mereka mencoba menghentikan kendaraan berat PT.PUL yang tengah bekerja di wilayah Desa Atue.

Aktivitas itu kemudian dikonfirmasi kepada pihak perusahaan untuk mengetahui pekerjaan yang sedang dilakukan.

Perwakilan External PT.PUL, Iwan, mengatakan kegiatan itu berkaitan dengan pekerjaan penambahan pipa air dan pembukaan akses menuju lokasi kerja.

Menurut Iwan, lokasi pekerjaan sebelumnya merupakan area perbatasan antara Ussu dan Atue. Ia menjelaskan, terdapat rencana penambahan sekitar 200 batang pipa air dari titik bagian bawah menuju bagian atas.

“Pipa dari perusahaan yang belikan dan pekerjaannya oleh warga Atue,” ujarnya, saat dikonfirmasi rekan media, Rabu (30/9/2026), paska-cekcok terbaru antara warga dan pihak perusahaan.

Menurut Iwan, PT.PUL tidak menjadi pelaksana utama pekerjaan itu. “Kami sifatnya mensupport,” ujarnya. Selain pekerjaan pipa, perusahaan juga berencana memasang Armco untuk mendukung akses kendaraan di lokasi.

Iwan mengatakan pemasangan itu diperlukan agar alat berat dapat melintas tanpa mengganggu akses air warga. Sebuah video yang diunggah warga setempat pula memperlihatkan alat berat berada di dekat aliran sungai kecil.

Beberapa unit Armco juga terlihat berada di lokasi dan disebut akan digunakan untuk membuat akses perlintasan. Dengan konstruksi itu, akses kendaraan menuju lokasi pekerjaan diharapkan dapat dilalui dengan lebih mudah.

Iwan juga menjelaskan bahwa aktivitas di kawasan berkaitan dengan satu titik pengeboran yang berada di lahan warga di wilayah Salociu, Desa Ussu.

“Ada titik bor di lahan warga Salociu/Ussu yang sudah bebas,” katanya, meski tak menampik bila sebelumnya memang terdapat rencana titik pengeboran di wilayah Desa Atue.

Ia mengatakan untuk pembuatan jembatan dan perlintasan jalan, sebagian warga Atue tetap terlibat dalam pekerjaannya, terutama pada jalur di sepanjang perbatasan Atue dan Ussu.

Hanya saja, aktivitas alat berat kembali menimbulkan pertanyaan warga, disebabkan kawasan yang dilalui berada dekat dengan aliran air yang selama ini menjadi perhatian warga.

Dari video yang sempat diamati MaliliPos, aliran sungai kecil di lokasi terlihat dalam kondisi cukup rendah. Posisi air tampak telah menjauh dari dinding penahan abrasi.

Belum dapat dipastikan dari pengamatan visual tersebut apakah lokasi pemasangan Armco berada pada jalur sumber mata air atau bagian hulu yang digunakan masyarakat.

Kekhawatiran warga juga tidak terlepas dari persoalan aktivitas pengeboran PT.PUL yang sebelumnya telah mereka persoalkan.

Pada 11 September, warga sempat menegur aktivitas pengeboran karena mengaku belum memperoleh sosialisasi mengenai rencana kegiatan dan potensi dampaknya.

PT.PUL lalu menarik alat pengeboran dari lokasi sambil menunggu proses sosialisasi bersama pemerintah setempat.

Keberatan kembali muncul pada 18 September. Warga memasang spanduk penolakan terhadap aktivitas pertambangan di jalan eksplorasi PT.PUL dan meminta perusahaan memberikan penjelasan mengenai kegiatan serta perlindungan sumber air.

Persoalan itu berlanjut selama berlangsungnya forum sosialisasi di Kantor Desa Atue pada 21 September. Sejumlah warga datang membawa spanduk dan meminta pembahasan dihentikan.

Mereka menilai keterlibatan masyarakat dalam proses tersebut belum cukup luas. Selain persoalan sosialisasi, warga juga menyoroti sumber air yang digunakan masyarakat serta keberadaan kawasan tambak di Atue.

Kekhawatiran mereka berkaitan dengan kemungkinan aktivitas di sekitar kawasan yang akan memengaruhi kondisi air dan lingkungan.